Refleksi menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAw



Setiap kali mengenang kelahiran Nabu Muhammad SAW serasa kita terbawa pada zaman yang diliputi dengan kebodohan karenanya zaman tersebut didamakan zaman jahiliyyah, rusaknya moral dan meluasnya kebencian diantara kaum Quraisy adalah bagian dari kehidupan mereka. Namun, di sela-sela kemunduran tersebut terjadi berbagai peristiwa besar bahkan sangat tidak wajar yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sebagai contoh pasukan Gajah yang dipimpin oleh Namrudz yang hendak mengancurkan baitulloh hanya dihancurkan oleh segerombolan burung Ababil yang memang ditugaskan khsusus oleh Allah untuk menjaga baitullloh serta menyambut kelahiran insan paling mulia diantara mahluknya.
Kelahiran Nabi dapat diartikan sebagai bentuk peradaban baru, karena risalah kenabiannya menjadi rahmatal lil ‘alamin yang memang sangat dibutuhkan di zaman itu. Jahiliyyah merupakan sebuah perdaban yang berdasarkan materi, sehingga tolok ukur merekapun menggunakan materi tanpa adanya sebuah hukum keadilan, dengan prisip yang kuat adalah raja sedang yang lemah pasti ditindas.
Empat belas abad lalu, ketika peradaban manusia Arab masih didominasi dengan kekejian dan kezaliman yang tidak manusiawi, dimana tatanan masyarakat hanya berjalan atas dasar kekuatan dan kekuasaan, terjadilah suatu zaman yang sering disebut zaman ‘kegelapan’. Dan kelahiran Muhammad dalam kubangan kegelapan kaum kafir Quraisy saat itu, menjadi satu peristiwa yang kemudian diyakini mampu mengguncangkan dan mengubah seluruh alam manusia, termasuk peradaban masyarakat manusia itu sendiri.
Sekilas tentang perayaan maulid
Mungkin sudah tidak asing lagi, bahwasannya dalam bulan maulid terdapat berbagai perayaan walau tidak lepas dengan kotroversi sampai sekarang. Bermacam pendapat para Ulama tentang perayaan maulid ini. Seorang ulama fikih dari lingkungan mazhab Maliki, yaitu Taj al-Din Umar ibn Ali al-Lakhmi yang lebih dikenal sebagai al-Fakihani. Menurut al-Fakihani, perayaan maulid hukumnya antara dua: kalau tidak bid'ah yang dimakruhkan, ya bid'ah yang haram. Tidak bisa keluar dari dua kemungkinan itu. Alasannya persis sebagaimana dikemukakan oleh sejumlah ulama modern sekarang yang tidak setuju dengan praktek maulid - bahwa ritual ini tidak ada sandarannya dalam Quran dan hadis, karena itu disebut sebagai bid'ah. Namun di lain pihak mengungkapkan tentang diadakanya sebuah perayaan maulid. Bahkan menurut sejarah ada dua pendapat yang menengarai awal munculnya tradisi Maulid.
Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriyah. Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh Al-Afdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Al-Sakhawi (w. 902 H), walau dia tidak mencantumkan dengan jelas tentang siapa yang memprakarsai peringatan Maulid saat itu.
Kedua, Maulid diadakan oleh khalifah Mudhaffar Abu Said pada tahun 630 H yang mengadakan acara Maulid besar-besaran. Saat itu, Mudhaffar sedang berpikir tentang cara bagaimana negerinya bisa selamat dari kekejaman Temujin yang dikenal dengan nama Jengiz Khan (1167-1227 M.) dari Mongol. Jengiz Khan, seorang raja Mongol yang naik tahta ketika berusia 13 tahun dan mampu mengadakan konfederasi tokoh-tokoh agama, berambisi menguasai dunia. Untuk menghadapi ancaman Jengiz Khan itu Mudhaffar mengadakan acara Maulid.
Tidak tanggung-tanggung, dia mengadakan acara Maulid selama 7 hari 7 malam. Dalam acara Maulid itu ada 5.000 ekor kambing, 10.000 ekor ayam, 100.000 keju dan 30.000 piring makanan. Acara ini menghabiskan 300.000 dinar uang emas. Kemudian, dalam acara itu Mudhaffar mengundang para orator untuk menghidupkan nadi heroisme Muslimin. Hasilnya, semangat heroisme Muslimin saat itu dapat dikobarkan dan siap menjadi benteng kokoh Islam. Sejatinya, dua pendapat di atas sama-sama benar. Alasannya, karena peringatan Maulid tidak pernah ada sebelum abad ketiga dan diadakan pertama kali oleh Mu’iz li Dinillah, dan ini hanya bertempat di Kairo dan masih belum tercium ke lain daerah. Sedangkan Mudhaffar adalah orang pertama yang memperingati Maulid di Irbil, yang dari Mudhaffar inilah peringatan Maulid mendunia.
Disasdari atau tidak setiap hal hampir tak luput dari sebuah kontroversi, nabi bersabda اخنلاف امتي رحة karenanya marilah kita hadapi dengan dewasa.
Hikmah kelahiran Nabi Muhammad SAW
Seorang yang mempunyai pengaruh besar, tentunya dalm kelahirannya pun mempunyai arti yang penting, selain ditandai dengan keajaiban-keajaiban. Dalam kitab husul maqshod fi ‘amalil Maulid lil imami syuyuthi sebgai mana yang dikatakan Ibnul Hajj salah seorang ulama shufi berkata ”ketika ditanyakan kenapa maulid Nabi Muhammad SAW itu dikhususkan pada bulan Rabi’ul awwal bukan di bulan diturunkannya Al qur’an Al karim ataua di bulan lain yg dimulyakan Allah, dan kenapa pula pda hari senin? bukan pada sayyidul ayyam?”.
Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut membutuhkan 4 jawaban.
Pertama: Hadits yang menerangkan diciptakannya syajar pada hari senin, dalam hal ini mengandung sebuah peringatan yang agung yaitu Allah menciptakan bahan-bahan pokok, berbagai rizqi, buah-buahan, dan kebaikan-kebaikan yang dimanfaatkan oleh manusia sehingga mereka bisa hidup dan menikmatinya.
Kedua: Redaksi robi’ dari segi lafadznya mengandung isyarah dan optimisme kebaikan yang disandarkan pada asal mula kata tersebut. Abu Abdurrahman Ashoqli berkata “setiap manusia mempunyai bagian dari namanya”.
Ketiga: Musim semi (robi’) adalah sebaik-baiknya musim beserta keindahannya, tatanannya pun sebaik-baik sebuah tatanan beserta toleransinya.
Keempat: Sesungguhnya Dzat yang maha bijaksana berkehendak memuliyakan waktu dilahirkannya Nabi Muhammad. Jika baginda Rosululloh dilahirkan sebelum Rabi’ul awwal atau di bulan-bulan mulia maka akan terkesan kemuliyaan Nabi karena kemulyaan bulan tersebut.
Intisari
Membicarakan kelahiran nabi merupakan sebuah keindahan tersendiri, keagungan serta keindahan beliau tak akan habis ditulis oleh pena karena beliau adalah insan yang dipilih Allah subhanahu wa ta’ala menjadi yang terindah. Oleh karenanya seraya mengenang peristiwa yang agung, kita pupuk rasa mahabbah kepada beliau. Nabi bersabda “barang siapa mencintaiku niscaya akan bersamaku di surga”.


Responses

0 Respones to "Refleksi menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAw"

Posting Komentar

Recent Comments

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Popular Posts

Return to top of page Copyright © 2011 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by Hack Tutors